Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 09 Maret 2011

Dane Rahil, seorang tokoh Tari Gandrung Lombok

Tari Gandrung merupakan sebuah tarian yang kini berkembang di tiga daerah, yaitu Banyuwangi, Bali, dan Lombok. Meskipun memiliki kemiripan, Tari Gandrung ketiga daerah ini memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki di daerah yang lain. Demikian pula dengan yang terjadi pada Tari Gandrung yang ada di Lombok. Meskipun Lombok dan Bali memiliki kemiripan budaya, tetapi Tari Gandrung di Lombok memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Tari Gandrung yang ada di Bali. Inilah ciri khas dari Lombok yang tidak dimiliki di Pulau Bali. ”Lombok sering digambarkan oleh orang luar sebagai versi kecil Bali. Tetapi penduduk Lombok sendiri akan mengatakan bahwa, `Anda akan melihat Bali di Lombok, tetapi tidak akan melihat Lombok di Bali`.” (Sepora Nawadi, 1995:14). Tulisan berikut ini secara khusus akan berbicara tentang Tari Gandrung yang berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat beserta unsur simbolis yang tersaji dalam sebuah pertunjukkan Tari Gandrung.
Gandrung dalam pemahaman masyarakat Lombok, khususnya masyarakat Sasak adalah nama sebuah pertunjukan yang dilakukan seorang penari wanita yang diiringi seperangkat gamelan (sabarungan dalam istilah suku Sasak), puisi, dan nyanyian (dalam bahasa suku Sasak disebut lelakaq, sandaran) (R. Diyah Larasati, 1996:16). Pertunjukan Gandrung ini dilakukan dalam perayaan desa setelah masa panen padi. Gandrung menunjukkan suka cita dan harapan bersama masyarakat Sasak. Gandrung sekaligus juga merupakan ekspresi simbolis masyarakat Sasak di Lombok (R. Diyah Larasati, 1996:16).
Ekspresi simbolis lewat Gandrung bagi masyarakat Sasak diwujudkan melalui dunia makna yang secara signifikan berada dalam sistem ideasional yang juga terefleksikan dalam interaksi sosial. Ditambah lagi adanya artefak yang melegitimasi keberadaan pertunjukan itu di tengah-tengah para penikmatnya (R. Diyah Larasati, 1996:17). Menurut R. Diyah Larasati, sistem ideasional yang dimaksud adalah konteks berfikir serta gagasan-gagasan para pelaku pertunjukan Gandrung. Dalam perspektif ini, Gandrung dipakai sebagai media untuk melepaskan harapan dan suka cita. Alam yang terefleksi melalui harapan akan melimpahnya panen padi, berusaha untuk dapat dikuasai dengan sebuah keharmonisasian melalui ungkapan suka cita dalam seni pertunjukan ini. Dalam pemikiran ini, alam dan manusia sebagai elemen kebudayaan mampu membentuk suatu harmoni (R. Diyah Larasati, 1996:17).
Dilihat dari asal-usul, Tari Gandrung yang terdapat di Lombok kemungkinan bukan berasal dari kebudayaan asli Lombok (masyarakat Sasak). Hal ini bisa dilihat dari adanya Tari Gandrung yang juga terdapat di beberapa daerah lainnya, misalnya saja di Banyuwangi dan Bali. Beberapa budayawan atau peneliti akhirnya mencoba menelusuri dan menafsirkan asal-usul Tari Gandrung sehingga menjadi sebuah kebudayaan yang cukup sakral bagi masyarakat Sasak di Lombok.
Seperti tertulis dalam Tari Gandrung Lombok (1993/1994), I Wayan Kartawirya menyatakan bahwa Tari Gandrung berasal dari Banyuwangi, kemudian menyebar lewat Bali dan akhirnya sampai di Lombok. Alasannya didasarkan pada Indische Staatsbald, Nomor: 123 tahun 1852 yang mengatur tentang Pemerintahan Hindia Belanda. Dalam Staatsblad tersebut disebutkan bahwa Pulau Lombok, termasuk ke dalam Keresidenan Bali dan Lombok dengan ibukota mula-mula Banyuwangi, kemudian pindah ke Singaraja di Bali. Asal-usul Tari Gandrung di Lombok juga terdapat dalam buku Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat Jilid I (1977:133). Di dalam buku tersebut dituliskan bahwa Tari Gandrung berasal dari Banyuwangi (Jawa Timur) kemudian berkembang di Lombok melalui Bali, pada masa Bali dan Lombok Barat (Karangasem) merupakan kesatuan daerah kultural. Dari pendapat ini jelas tergambar bahwa Tari Gandrung mulai masuk dan berkembang di Lombok sebelum Kerajaan Lombok (Karangasem) terakhir jatuh pada 1894. Pendapat berikutnya datang dari David Harnish dalam Thesisnya yang berjudul Musical Traditions of the Lombok Balinese (1985:105). Disebutkan dalam tulisan beliau bahwa bentuk Tari Gandrung di Lombok diperkirakan sebagai suatu adaptasi dari model Banyuwangi yang berkembang lewat Bali. Akan tetapi pada perkembangan selanjutnya di Lombok, Tari Gandrung ini menyerap pula bentuk-bentuk atau karakter lokal (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:14-15).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Tari Gandrung yang ada di Lombok awalnya berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak kapan dan bagaimana sehingga Tari Gandrung bisa masuk ke Lombok, secara spesifik belum diketahui secara pasti. Hanya saja terdapat beberapa pendapat yang bisa dijadikan keterangan tentang kapan Tari Gandrung tersebut masuk ke Lombok. Misalnya saja pendapat dari I Wayan Kartawirya yang mendasarkan pendapatnya dari Indische Staatsbald, Nomor: 123 tahun 1852. Dari pendapat ini setidaknya terdapat sedikit keterangan bahwa Tari Gandrung telah masuk ke Lombok setelah tahun 1852. Ukuran waktu juga dapat dilihat dari pendapat yang tertulis dalam buku Monografi Daerah Nusa Tenggara Barat Jilid I (1977). Pendapat yang mendasarkan tentang kesatuan kultural yang terjadi antara Bali dan Lombok Barat (Karangasem), menyisakan sedikit keterangan bahwa peristiwa kesatuan kultural tersebut terjadi sebelum Kerajaan Lombok (Karangasem) terakhir jatuh pada 1894. Agak berbeda dengan dua pendapat di atas, I Wayan Kartawirya berpendapat bahwa Tari Gandrung mulai masuk ke Lombok seiring dengan diangkatnya I Gusti Putu Geria sebagai Pepatih untuk mengepalai orang-orang suku Bali di Lombok sebagai pengganti kedudukan raja Lombok (Raja Agung Ngurah) yang ditaklukan oleh Belanda pada 18 November 1894 (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:13). Pada waktu I Gusti Putu Geria ini memerintah, beliau sempat mendatangkan rombongan kesenian dari Bali Utara (Singaraja) ke Mataram. Di antara rombongan kesenian tersebut, salah satunya adalah Tari Gandrung. I Wayan Kartawirya tidak menyebutkan secara pasti kapan peristiwa itu terjadi. Beliau hanya memperkirakan bahwa kejadian itu berlangsung antara 1907-1910. Menurut beliau, sejak I Gusti Putu Geria mengundang rombongan kesenian dari Bali Utara ini, maka mulai berdatanganlah berbagai jenis tari lainnya dari Bali Utara ke Lombok (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:13-14). Dari ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemungkinan, Tari Gandrung mulai masuk ke Lombok setelah tahun 1852 sampai 1910. Setelah tahun 1910 Tari Gandrung telah berkembang di Lombok. Jadi kemungkinan terdapat interval 58 tahun proses masuknya Tari Gandrung ke Lombok.
2. Penyebaran dan Perkembangan Tari Gandrung di Lombok
Penyebaran dan perkembangan Tari Gandrung dipengaruhi pula oleh akulturasi budaya, khususnya antara kebudayaan Bali dan Lombok. Faktor yang memungkinkan terjadinya akulturasi antara lain karena semakin terbukanya sistem kekerabatan masyarakat Sasak dalam menerima anggota keluarga dari etnis lain dan semakin banyaknya terjadi mobilitas penduduk (R. Diyah Larasati, 1996:15). Faktor ini bertambah dengan adanya hubungan yang erat antara penduduk Lombok, khususnya masyarakat Sasak dengan penduduk di Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi, khususnya Sulawesi Selatan. Dalam praktek keseharian, orang-orang yang tinggal di Lombok Barat mempunyai hubungan kekeluargaan yang erat dengan orang-orang yang bermukim di Bali, khususnya Bali bagian Timur. Kekeluargaan inilah yang kini dikenal dengan istilah “sidikara” (Ahmad Amin et.al., 1977/1978:22). Melalui ikatan kekeluargaan yang erat inilah, maka tidak jarang beberapa unsur kebudayaan turut serta terbawa, misalnya dalam bentuk bahasa, kesenian, dan kerajinan.
Dari sini dapat dilihat bahwa metode penyebaran Tari Gandrung dimungkinkan terjadi karena adanya ikatan kekeluargaan yang kuat antara masyarakat Sasak dan Bali. Ikatan kekeluargaan ini yang kemudian memungkinkan terjadinya proses akulturasi. Jika dilihat dari asal-usul masuknya Tari Gandrung ke Lombok, maka hanya pendapat dari I Wayan Kartawirya yang secara langsung menunjukkan tentang siapa orang yang berjasa di balik terjadinya akulturasi sehingga membawa kebudayaan Tari Gandrung ke Lombok. Dalam perspektif ini orang yang berjasa untuk memperkenalkan Tari Gandrung ke Lombok adalah I Putu Geria sewaktu beliau menjabat sebagai Pepatih di Mataram (Lombok). Bagai gayung bersambut, inisiatif dari I Putu Geria mendapat dukungan dari seorang kaya raya di Cakranegara, Mataram, bernama I Gde Ketur (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:14).
I Gde Ketur merupakan seorang hartawan yang sangat menyukai Tari Gandrung. Kesenangan beliau diwujudkan dengan mendukung perkembangan Tari Gandrung di Lombok dengan menyediakan gamelan dan rumahnya sebagai tempat latihan bagi para penari Gandrung. I Gde Ketur ini pula yang kemudian mengubah tradisi Tari Gandrung yang semula dimainkan oleh penari pria, kemudian diubah menjadi dimainkan oleh penari wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16). Pada awalnya proses pengubahan ini mengalami sejumlah kendala. Salah satunya adalah sulitnya mencari penari wanita yang berasal dari Bali. Kesulitan ini kemudian berhasil diatasi dengan cara menggantikan penari Gandrung yang berasal dari Bali dengan menjadikan seorang wanita dari suku Sasak bernama Tinggen untuk menjadi penari Gandrung wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16). Mulai dari sinilah terjadi perubahan ciri Tari Gandrung dibandingkan dengan daerah asalnya, baik Banyuwangi maupun Bali. Perubahan tersebut meliputi penari, yaitu pergantian antara penari pria yang digantikan dengan wanita. Kedua, penari tidak lagi berasal dari Bali melainkan dari suku Sasak. Perubahan ini menimbulkan ciri khas tersendiri dari Tari Gandrung Lombok yang mulai mendapat pengaruh dari masyarakat Sasak.
Di Lombok sendiri penyebaran Tari Gandrung tercatat di beberapa tempat, seperti di Suweta, Bertais, Batuaya, Narmada, kemudian ke arah Lombok bagian Timur seperti Sukadana, Kilang, Suradadi, Kutaraja, Lendang Nangka, Sukarara, sebagian Mantang, Rarang, dan sebagian Sakra (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16-21). Seperti ditulis dalam buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994), lewat penyebaran ini kemudian timbul organisasi-organisasi dan berbagai tokoh kebudayaan tari yang berusaha melestarikan eksistensi Tari Gandrung di Lombok. Organisasi-organisasi dan para tokoh tersebut misalnya Organisasi “Panti Karya Tari” pada 1963 di Batuaya yang dipimpin oleh I Dewa Kompyang dengan penari utama seorang wanita Bali bernama Ni Tengah Tengkuk. Organisasi ini kemudian bersulih nama menjadi “Sad Guna Gita” pada 1971; Amaq Banun seorang penari pria yang bernama asli Ratnadi yang aktif di Dasan Tereng, Kecamatan Narada (meninggal pada 1957); Inaq Bilin, seorang penari wanita dari suku Sasak yang merupakan keponakan dari Amaq Banun; Sahari, ketua dari Organisasi Gandrung “Sekar Wangi” di Dasan Tereng, Kecamatan Narada; Organisasi “Dana Bakti” di Dasan Palung, Desa Suwangi, Kecamatan Sakra, yang dipimpin oleh Amaq Sinalam dengan penari Gandrung wanita bernama Inaq Semi, istri dari Amaq Sinalam; Dane Rahil, seorang tokoh Tari Gandrung yang berasal dari Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16-22). Dari penyebaran Tari Gandrung ini pula akhirnya dikenal berbagai “aliran” dalam Tari Gandrung, seperti Gandrung Bertais dari daerah Bertais; kemudian di Dasan Tereng yang masih mempertahankan keaslian tradisi Tari Gandrung dengan bagian yang dinamakan Tangis (semacam intro sebelum Bapangan, dibawakan sambil menari dan menyanyi), dan Rereng Manis (merupakan bagian dari Bapangan yang dibawakan dengan cara duduk sambil menari dan menyanyi (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16-18). Bapangan adalah sebuah babak dalam Tari Gandrung di mana penari memperkenalkan diri kepada para penonton (http://64.203.71.11/kompas-cetak/).
Penyebaran dan perkembangan Tari Gandrung di Lombok kini dinilai telah mulai mengalami pergeseran. Maraknya dunia hiburan di abad ke-20 menjadikan terjadinya pergeseran makna yang mulai menepiskan esensi sebuah ritus (R. Diyah Larasati, 1996:21). Dari sinilah mulai bermunculan kelompok-kelompok di luar dunia tradisi yang mengambil Tari Gandrung sebagai indentitasnya. Kini Tari Gandrung tidak semata-mata dilakukan sebagai ucapan syukur maupun harapan yang diwujudkan dengan beragam makna simbolisasi. Tari Gandrung telah mengalami beberapa pergeseran bentuk, seperti tidak harus dimainkan setelah panen saja, tetapi dimainkan pula dalam berbagai acara. Penari wanita sebagai sentral Tari Gandrung menjadi penarik kaum Adam untuk maju ke gelanggang dan mengibing bersama. Acara kesakralan kini telah bergeser menjadi sekadar hiburan. Di sinilah mulai tergambar pendapat Bakker, “Perkembangan perikehidupan seni menunjukkan aspek lain lagi pada pergulatan antara tradisi dan inovasi” (Bakker, J.W.M., 1979:23).
Inovasi terkadang memang meminggirkan tradisi. Berbagai tuntutan dan kepentingan yang harus terpenuhi, tampaknya menjadikan sisi tradisi menempati urutan nomor dua. Hiburan, kebutuhan dapur bagi para penari, dan dalih pelestarian kebudayaan, ternyata menjadikan Tari Gandrung yang kini banyak ditampilkan di Lombok mulai keluar dari pakem yang telah digariskan. Inovasi memang membawa konsekuensi, dalam hal ini terjadi pergeseran tradisi.
3. Peralatan dan Pemain
A. Peralatan
Peralatan dalam Tari Gandrung disebut dengan gamelan. Ragam gamelan yang dimainkan dalam Tari Gandrung ternyata telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Pada saat sekarang Tari Gandrung dimainkan dengan Gamelan Oncer. Sebelum dimainkan dengan Gamelan Oncer, pertunjukan Tari Gandrung diiringi dengan Gamelan Tawaq-Tawaq (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:20). Harnis, David (1998:130-131) dalam Tari Gandrung Lombok (1993/1994), membuat semacam periodisasi hasil penelitian tentang gamelan di Lombok, yaitu:
1. Periode I, awal tahun 1700
Gamelan yang termasuk ke dalam periode ini adalah Gamelan Oncer, Gamelan Tawaq-tawaq, Gamelan Barong Tengkong, Gamelan Grantang, dan ensambel Gamelan Wayang .
2. Periode II yang disebut dengan Periode atau Masa Pertengahan antara tahun 1700-1900
Gamelan yang termasuk ke dalam periode ini adalah Gamelan Pereret, Gamelan Kamput, Gamelan Rebana, dan Gamelan Klentang.
3. Periode III yang disebut Periode atau Masa Modern, yaitu sesudah tahun 1900
Gamelan yang termasuk ke dalam periode ini adalah Kecimol, Silokan, Gamelan Gong Sasak, dan Burdah (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:20-21).
Dari kiri ke kanan: Barungan Gamelan Gandrung Desa Dasan Tereng, Barungan Gamelan Gandrung Desa Lenek (memakai cungklik dan suling belo), dan Barungan Gamelan Gandrung Desa Suwangi
Pada dasarnya dalam mengiringi Tari Gandrung, ensambel tradisional yang utama adalah Gamelan Oncer. Akan tetapi pada perkembangannya terjadi perubahan ensambel pengiring Tari Gandrung. Sebagaimana ditulis dalam buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994),
“Peralatan/ensambel gamelan yang dipakai sekarang adalah pemugih, saron, kantil, calung, jegogan, suling biasa, pereret, dan rincik. Sedang peralatan yang dipakai dulu adalah ensambel gamelan yang terdiri dari, cungklik (dengan dilengkapi alat musik gesek yang disebut redep atau rebab), gender/calung, gong, gendang, petuk, rincik, pereret, suling biasa, dan ketipuk” (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994: 21).
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa perubahan gamelan pengiring dalam Tari Gandrung tempo dulu dan sekarang terdapat pada penambahan saron, kantil, calung, dan jegogan.
B. Pemain
Pada awal dipentaskan, Tari Gandrung dimainkan oleh penari pria. Tetapi pada perkembangan kemudian, Tari Gandrung dimainkan oleh penari wanita. Perubahan yang terjadi sehubungan penggantian peran penari pria dengan penari wanita dalam Tari Gandrung di Lombok, tidak bisa dipisahkan dari peran I Gde Ketur. Beliau merupakan pemerhati Tari Gandrung di Lombok yang berperan besar dalam mengubah tradisi Tari Gandrung yang semula dimainkan oleh penari pria, kemudian diubah menjadi dimainkan oleh penari wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:16).
Menurut buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994), peran penari wanita sebagai pengganti penari pria di Banyuwangi telah dikenal pada 1895. Di Lombok sendiri, penggantian peran penari pria dengan wanita bisa dilihat ketika I Gde Ketur mulai mengubah tradisi tersebut. Minimal ada dua pendapat tentang perubahan peran penari ini. Pertama, perubahan ini terjadi kira-kira pada 1935. Alasan pengambilan tahun 1935 berdasarkan penuturan seorang masyarakat dari Suku Sasak bernama Mamiq Rumita. Beliau menyatakan bahwa ketika beliau berumur 10 tahun, Tari Gandrung di Lombok sudah ditarikan oleh wanita. Mamiq Rumita merupakan seseorang dari suku Sasak yang lahir pada 1925. Ketika beliau berumur 10 tahun, beliau telah melihat bahwa Tari Gandrung telah ditarikan oleh penari wanita. Dari penuturan ini, dapat diartikan bahwa kisaran waktu penggantian penari pria ke wanita dalam Tari Gandrung diperkirakan terjadi pada 1935. Kedua, dilihat dari mulai tampilnya Inaq Bilin sejak 1920 atau 1922. Inaq Bilin merupakan penari Gandrung wanita yang merupakan keponakan dari Amaq Banun, seorang penari Gandrung pria. Dilihat dari angka tahun ini, kemungkinan perubahan penari pria ke penari wanita terjadi antara 1920-1935. Sehingga di Lombok sendiri membutuhkan waktu sekitar 25-40 tahun untuk membuat sebuah perubahan dari penari Gandrung pria ke penari wanita (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:17 dan 22-23).
C. Pertunjukan Tari Gandrung
Pertunjukan Tari gandrung dilakukan oleh satu atau dua orang wanita. Biasanya digelar pada malam hari yang bertepatan dengan pasca panen padi (R. Diyah Larasati, 1996:16). Dalam setiap pertunjukan, para penari Gandrung memakai busana atau pakaian khas penari. Busana penari Gandrung terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
1. Gelung/Gegelung, yaitu hiasan penutup kepala yang seluruh permukaan luar bagian belakang dihiasi dengan bunga Kamboja yang diikatkan/disangkutkan pada permukaan gelung.
2. Gempolan, hiasan di atas telinga yang terbuat dari rangkaian bunga Kamboja.
3. Bapang, yaitu hiasan yang melingkar di sekitar leher, yang menutupi pundak, dada bagian atas dan punggung bagian atas
4. Stagen dan Seret, Stagen merupakan kain yang melilit dipinggang yang berfungsi sebagai sabuk (ikat pinggang). Sedang Seret adalah tali kecil yang terbuat dari kain yang dililitkan di Stagen putih.
5. Elaq-elaq, yaitu lidah-lidah yang tergantung pada Bapang sampai ke perut, terbuat dari kain.
6. Gonjer/Gegonjer, yaitu sejenis selendang warni-warni sebagai hiasan pinggang.
7. Ampok-ampok depan, yaitu hiasan pinggul bagian depan
8. Ampok-ampok belakang, yaitu hiasan pinggul bagian belakang.
9. Kain panjang
10. Properti yang dibawa seorang penari Gandrung adalah kipas (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:48-49).
Busana penari Gandrung
Keterangan:
1. Gegelung
2. Gempolan
3. Bapang
4. Stagen dan Seret
5. Elaq-elaq
6. Gonjer/Gegonjer
Seperti ditulis dalam Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan (1996), R. Diyah Larasati dalam artikel berjudul “Gandrung di Lombok Barat: Ekspresi Simbolis Komunitas Sasak”, menjelaskan bahwa sebelum digelar pertunjukan Tari Gandrung, terlebih dahulu diadakan prosesi andang-andang, yaitu berupa sesaji yang terdiri dari beras, uang logam (244 keping), benang satu ikat, sirih pinang, serta sebutir kepala. Sesaji ini digunakan sebagai awalan sebelum pertunjukan Tari Gandrung. Prosesi ini disebut dengan pemeras pati. Upacara pemeras pati ditujukan untuk menghilangkan gangguan selama pertunjukan. Pemeras pati dilakukan dengan urutan sebagai berikut :
1. Seorang pemimpin pertunjukan bersama para pemain instrumen, tetua desa, pemilik tempat (halaman rumah-rumah Sasak) membakar kemenyan.
2. Asap kemenyan didekatkan dengan beras dan peralatan lain (mengasapi).
3. Mengusap mata gong dengan benang sebanyak tiga kali.
4. Memukul gong tiga kali dengan selang pukul selama satu kali bernafas.
5. Menebarkan beras bersama uang logam ke seluruh peralatan.
6. Memukul instrumen dengan bebas bersamaan dengan jatuhnya uang dan beras (lindur) (R. Diyah Larasati, 1996:20-21).
Setelah prosesi pemeras pati selesai dilakukan, maka pertunjukan Tari Gandrung siap untuk dimulai. Pertama kali dimainkan Gending Kabor, kemudian disusul dengan Gending Bapangan (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:31). Seperi dikutip dalam artikel Khaerul Anwar yang berjudul “Semangat Seni Tradisi Bangkit di Lombok”, Tari Gandrung terdiri dari tiga babak, yaitu babak Bapangan (memperkenalkan diri), kemudian menari sambil menyanyi (besandaran atau bedede). Selajutnya adalah babak Gandrungan, yaitu mengibas-ngibas kipas dan menari mengitari arena. Pada saat tertentu, penari menyentuhkan kipas (tepekan)pada penonton yang serta-merta maju ke arena untuk menari (mengibing) atau disebut babak Parianom. Penonton diberikan waktu untuk mengibing sekitar 10 menit, dan sebelum meninggalkan arena ia harus menyerahkan uang (http://melayuonline.com/).
Pengibingan
Lalu Ma`as dalam makalahnya berjudul “Ngibing Bersama Gandrung dan Jangger (1977:12) menyatakan bahwa uang yang ditinggalkan para pengibing sebelum meninggalkan arena tidak dimaknai sebagai upah bagi para wanita penari Gandrung. Uang tersebut biasa disebut dengan salaran. Esensi salaran dalam pertunjukan Gandrung di Lombok adalah ucapan terimakasih bahwa sang pengibing diberikan kesempatan untuk turut bersuka cita dengan menari bersama sang Gandrung. Kesempatan ini bagi masyarakat Sasak dinilai sebagai sebuah penghargaan (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:33).
Masih dalam makalah Lalu Ma`as yang berjudul “Ngibing Bersama Gandrung dan Jangger (1977:13), disebutkan pula aturan yang harus dipatuhi bagi para pengibing ketika menari bersama sang Gandrung (penari wanita). Pengibing harus bertindak sopan dan mematuhi norma kesusilaan yang berlaku di dalam masyarakat Sasak. Pengibing yang mencoba berbuat tidak senonoh atau asusila terhadap penari Gandrung, maka akan mendapatkan hukuman yang dilaksanakan sendiri oleh sang penari Gandrung. Jalannya hukuman tersebut adalah:
“Untuk sang Gandrung dilengkapi dengan alat penghukum khusus, yaitu rambun/tangkai sesumping yang terbuat dari bambu yang tajam/runcing, mencuat ke arah belakang kepala atas dari pangkal telinga di kiri dan kanan gelung. Kalau ada pengibing yang bertindak asusila, maka dengan sekali memutar badan disertai dengan lenggokan kepala saja sudah cukup membuat muka pengibing luka-luka, yang dengan sendirinya memaksanya untuk mundur teratur, membawa luka serta malu yang sangat” (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:33).
Denah tempat menari
Keterangan:
* 1. Petak tempat peralatan (gamelan)
* 2. dan 3. Petak tempat penari Gandrung
* 3. Petak tempat pengibing
* L. Lampu
Pengibing tidak boleh melewati garis batas GLH. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut akan dihukum:
1. Berupa teguran
2. Peringatan keras
3. Pengusiran dari tempat arena/pertunjukan (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:32).
Secara spesifik, dijelaskan dalam buku Tari Gandrung Lombok (1993/1994), bahwa dari ketiga babak di atas (Bapangan, Gandrungan, dan Parianom), terdapat juga detail lain dalam sebuah pertunjukan Tari Gandung. Adegan pertama adalah Tangis, kemudian disusul dengan adegan Bapangan. Dalam adegan Bapangan ini terdapat beberapa gerakan seperti: Gerah, Gabor Seriak, Nyatang, Bedeser, Ngindang, Jelek Gendang, Nyede Duduk, Surut Udang, Ngembat, Tindak Baring kiri Ngeluhluh kiri-kanan, Betetenggaq, Belemesan, dan Ngecok. Adegan ketiga adalah Rereng Manis, kemudian adegan keempat adalah Penepekan. Dalam adegan Penepekan ini terdapat sebuah gerak yang disebut Keleangnginte. Terakhir adalah adegan Pengibingan dengan gerakan antara lain: Narung (Sri Yaningsih et.al., 1993/1994:83-92).
Nyede
4. Nilai Budaya
Tari Gandrung bagi masyarakat Sasak memuat berbagai makna, seperti ungkapan syukur, suka cita, harapan, sampai dengan kesakralan yang tercermin lewat berbagai sesaji sebelum pertunjukan Tari Gandrung ditampilkan. Lewat Tari Gandrung inilah, simbolisasi tentang harmonisasi antara alam dan manusia dicoba utuk digambarkan oleh para penarinya. Ajaran untuk memanusiakan alam memang akrab bagi masyarakat Sasak di Lombok. Ajaran untuk memanusiakan alam inilah yang mengiringi kehidupan sehingga membentuk kebudayaan Sasak. Mengutip pendapat Bakker, “Kebudayaan adalah alam kodrat sendiri sebagai milik manusia, sebagai ruang lingkup realisasi diri. Dalam kebudayaan manusia memanusiakan alam, termasuk dirinya sendiri” (Bakker, J.W.M., 1979:4).
Simbolisasi yang sangat erat dalam Tari Gandrung dapat dipahami pula sebagai sebuah nilai kebudayaan. Karena dengan melestarikan nilai simbolis ini, berarti pula telah melestarikan tradisi yang merupakan bagian penting dari sebuah kebudayaan. Beragam nilai simbolis yang berada dalam Tari Gandrung antara lain: penari utama dan pengibing. Sebagai sebuah dunia simbolis tentang kesuburan (dimainkan pasca panen padi), pelaku utama dalam Tari Gandrung adalah wanita yang sekaligus merupakan jalinan penyusun makna yang secara inderawi hanya bisa tertangkap visualnya, tetapi dari sisi ini pelaku yang dalam hal ini penari Gandrung adalah makna itu sendiri yang disimbolkan dengan penari (R. Diyah Larasati, 1996:17). Wanita dalam hal ini lebih dimaknai sebagai media pengucapan syukur atas panen padi kepada dewi kesuburan. Wanita dalam konteks ini pula berperan sebagai tokoh sentral dalam sebuah tarian yang memegang peran penting dan sangat dihormati. Kehormatan untuk bisa mengibing dengan penari Gandrung merupakan penghargaan bagi masyarakat Sasak. Demikian pula dengan beberapa aturan yang harus dipatuhi dalam prosesi mengibing. Hal ini secara tersirat menggambarkan bahwa di lingkungan masyarakat Sasak, sosok wanita mendapat kedudukan yang tidak rendah. Kaum wanita dihormati karena memiliki nilai tersendiri yang tidak dimiliki oleh kaum pria.
Makna simbolis lainnya tergambar dalam penepekan, yaitu gerak menyentuhkan kipas antara penari Gandrung kepada salah satu penonton (R. Diyah Larasati, 1996:20). Makna simbolis yang tersirat dalam bagian ini adalah penyatuan gerak dua dunia, yaitu penari dan penonton dalam satu adegan dan arena yang dikenal dengan adegan pengibingan (R. Diyah Larasati, 1996:20). Dari adegan pengibingan ini pula terkandung makna susila yang diwujudkan dengan rambun/tangkai sesumping yang terbuat dari bambu yang tajam/runcing. Fungsi dari rambun ini sebagai pengendali apabila pengibing melakukan tindakan asusila. Di sini tergambar adanya norma kebebasan tetapi tetap menjaga kewaspadaan dan saling menghormati antara pelaku pertunjukan. Hal ini merupakan refleksi sistem sosial (kebudayaan) yang melingkupi komunitas Sasak (R. Diyah Larasati, 1996:20).
Selain makna simbolis di atas, dalam tradisi masyarakat Sasak, seorang penari Gandrung merupakan seorang perempuan yang masih gadis atau remaja. Seperti ditulis dalam artikel R. Diyah Larasati, “Gandrung di Lombok Barat: Ekspresi Simbolis Komunitas Sasak”, penari yang dipilih biasanya masih memiliki hubungan darah dengan penari sebelumnya. Para penari ini terus bergantian melakukan proses transmisi (pewarisan) kepada para gadis yang lebih muda. Biasanya pergantian ini terjadi karena seorang penari menikah atau pergi ke luar desa. Apabila sampai pada suatu saat tidak ada seorang gadispun yang bisa menggantikan kedudukan penari sebelumnya, maka penari tersebut akan memilih melajang (tidak kawin) dan memenuhi tugas simbolis masyarakat pendukungnya (R. Diyah Larasati, 1996 :22-23). Di sinilah pengorbanan menjadi sebuah konsekuensi bagi para wanita penari Gandrung. Pengorban yang harus dilakukan demi melestarikan nilai-nilai simbolisasi budaya yang terdapat pada masyarakat Sasak di Lombok.
Referensi
Ahmad Amin et.al. 1977/1978. Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daearah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Bakker, J.W.M. “Refeksi Budaya I” dalam Basis. Oktober 1979
Harnish, David. 1988. Music and Religion: syncretism, Orthodox Islam and Music Change in Lombok. USA: UCLA. Dalam Sri Yaningsih et.al. 1993/1994. Tari Gandrung Lombok. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Jakarta Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Lalu Ma`as. 1977. “Ngibing Bersama Gandrung dan Jangger” dalam Sri Yaningsih et.al. 1993/1994. Tari Gandrung Lombok. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Jakarta Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
R. Diyah Larasati. “Gandrung di Lombok Barat: Ekspresi Simbolis Komunitas Sasak” dalam Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Cet. I. September 1996. Surakarta: Masyarakat Seni pertunjukan Indonesia.
Sepora Nawadi. 1995. “Lovely Lombok” dalam Conextion. The Official In Flight Magazine of Sempati Air No. 07 (February-March) dalam R. Diyah Larasati. “Gandrung di Lombok Barat: Ekspresi Simbolis Komunitas Sasak” dalam Jurnal Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia. Cet. I. September 1996. Surakarta: Masyarakat Seni pertunjukan Indonesia.
Sri Yaningsih et.al. 1993/1994. Tari Gandrung Lombok. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Jakarta Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Artikel di Internet
Khaerul Anwar. “Inak Sunin, Empu Tari Gandrung Lombok” tersedia di http://kompas-cetak/. Diakses pada 31 Juli 2009
Khaerul Anwar. “Semangat Seni Tradisi Bangkit di Lombok” tersedia di http://melayuonline.com/. Diakses pada 31 Juli 2009.
Sumber foto
Sri Yaningsih et.al. 1993/1994. Tari Gandrung Lombok. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan Jakarta Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Sumber : http://arieftriambodo.blogspot.com/2009/10/tari-gandrung.html

Pemungut Ranting Pencipta Tari Sasak

Keseharian Amaq Raya kini mencari ranting-ranting kayu di pinggiran dusun. Sudah hampir lima tahun terakhir sang maestro tari Sasak itu tak pernah berpentas, karena gamelannya sudah rusak. "Harga gamelan yang sederhana itu sekitar Rp 15 juta. Kalau pakaian, masih ada," kata lelaki berusia sekitar 70 tahun itu pada pertengahan Juli lalu.
Nama aslinya Saleh, tapi dia lebih terkenal dengan sebutan Amaq Raya atau Bapak Raya, karena Raya adalah anak pertama dari istri ketiganya. Dia tinggal di sebuah rumah di Dusun Dasan Baru, Desa Lenek Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Rumah seluas 7 x 5 meter itu berdinding bata tanpa semen, dengan kamar-kamar tanpa pintu. Rumah itu dia bangun dari santunan yang diberikan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata selama enam bulan ketika dia dinobatkan sebagai maestro seni tradisional pada 2007. Di rumah itu, ia hidup bersama istri ketujuhnya, Salmah, 65 tahun, dan tiga anaknya.
Amaq Raya adalah seniman serba bisa. Dia dapat menari gandrung, tandak geruk, dan janger. Dia bisa pula mementaskan teater-tutur Cupak Grantang dan Pemban Selaparang. Dia juga pandai membaca lontar monyeh beraksara Kawi dalam tradisi kesenian cepung, yang ditembangkan dengan iringan musik suling dan redep (rebab).
Setelah begitu banyak menguasai tari-tari itu, "Saya mengarang tari-tari baru," katanya. Pertama kali dia menciptakan tari Gagak Mandi dan Pidata pada 1956. Tari Gagak Mandi diciptakannya setelah melihat burung-burung gagak sedang mandi di sebuah sungai. Dia juga menciptakan Pakon, tari untuk mengobati orang sakit.
Ketika Presiden Soekarno datang ke Mataram pada 1958, Amaq Raya dan kelompok keseniannya berpentas. Dalam acara itu pula Amaq Raya mendengar suara piano, yang mengilhaminya untuk menciptakan Kembang Ja gung, tari muda-mudi dengan iringan gending tradisional dan sisipan irama piano pada interlude.
Keahlian menari dan bermusik Amaq Raya diperoleh dari ayahnya, seniman kondang di Desa Lenek, yang terkenal sebagai gudang seniman tradisi. Di masa jayanya, dia kerap diundang tampil di Istana Negara dan berbagai daerah, termasuk tur di tiga provinsi di Jepang. Putrinya, Ayuningsih, sudah tampil memainkan kecimol (musik dari gamelan, suling, dan gendang Lombok) di Istana Merdeka pada 1990.
Tapi, seiring dengan makin pupusnya kesenian tradisional, kehidupan Amaq Raya juga makin sulit. Ayuningsih kini mengadu nasib sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Amaq Raya sendiri sudah renta dan sakit-sakitan selama lima tahun terakhir ini. "Saya sakit maag. Tidak bisa bekerja keras lagi," katanya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat, Mahdi Muhammad, mengaku sudah berupaya melestarikan kebudayaan lokal dengan memberi para seniman kesempatan pentas di berbagai acara, seperti Festival Seni Tradisi di Taman Budaya Nusa Tenggara Barat pada Ahad pekan lalu.
Kepala Taman Budaya, Lalu Agus Fathurrahman, mengatakan bahwa tempatnya menggelar 15 acara kesenian tradisional dalam setahun. "Acara itu sebagai apresiasi, bukan pembinaan," ujarnya, sehingga bila masyarakat tidak mendukung, kesenian itu akan punah.
Taman Budaya, kata dia, bertindak sebagai laboratorium dan etalase kesenian. "Kami memfasilitasi eksperimen seni tradisi dengan pendekatan estetika modern," katanya.

Amaq Raya Seniman Lenek Mengabdikan Hidupnya untuk Kesenian Lombok



LANGKAH Amaq Raya terhenti, matanya tertuju ke perilaku seekor burung gagak yang sedang mandi di kali. Dari gerakan kaki, kepak sayap, sampai posisi tubuh unggas itu mau terbang, terekam dalam benak Amaq Raya.
"Setelah gagak terbang, giliran saya yang mandi," kata warga Dusun Dasan Baru, Desa Lenek Daya, Lombok Timur, Nusatenggara Barat, itu berkelakar. Selang beberapa hari, gerakan burung gagak tersebut disimbolisasikan lewat tarian Gagak Mandi.
Isi jagat raya memang tidak pernah habis dirambah para seniman dalam proses kreatifnya. Begitu juga Amaq Raya, satu dari sedikit seniman pencipta tari dan gending, sekaligus seniman tabuh di Lombok, yang gagasannya bersumber dari alam.
Karya tarinya merupakan perpaduan wiraga (gerak raga) dan wirasa (gerak jiwa), yang tidak semua penari mampu menangkapnya. "Wiraga-nya bisa ditiru, tetapi wirasa-nya belum tentu. Padahal wiraga dan wirasa adalah energi sebuah tarian," komentar Lalu Makbul Said, pemerhati seni tari dan tabuh Lombok atas karya Amaq Raya.
"Amaq Raya mungkin satu-satunya yang menguasai roh tari gandrung Lombok," kata IN Argawe, Filolog Museum Negeri NTB.

GAGAK Mandi, satu dari karya yang masih diingatnya, selain tari Kembang Jagung dan Semar Geger. Kembang Jagung, idenya muncul sewaktu Bung Karno datang di Ampenan, kini Kodya Mataram. Saat itu, sekitar tahun 1958, Presiden RI pertama itu menghadiri acara bertema ‘’Persahabatan Indonesia-Tiongkok,'’ dan Amaq Raya bersama kelompoknya mendapat kesempatan pentas. "Saya dengar suara piano mengiringi penyanyi," ujarnya.
Maka sepulang dari situ, Amaq Raya bersama para penabuh, tidak tidur semalaman. Mereka menggarap gending pengiring tarian, sampai akhirnya menemukan gending yang cocok buat Kembang Jagung. Tarian muda-mudi itu diiringi gending tradisional dengan sisipan irama piano dalam interlude lagu. Sedang Semar Geger adalah gending reramputan (gado-gado), yang melukiskan keriangan muda-mudi menyambut panen. Nama semar bukan berarti tokoh wayang Jawa, melainkan padanan kata sembarang.
Pemahamannya tentang sejarah, diwujudkan lewat seni tembang (pepaosan) Pemban Selaparang, diciptakan tahun 1970, mengisahkan suka-cita rakyat Kerajaan Selaparang yang pernah berjaya di Lombok Timur tempo dulu.
Rahayu ing kawula da. Inggih pemban Selaparang. Purwasila dana dharma. Inggih pemban Selaparang. Rahayu ing adat gama. Inggih pemban Selaparang. Purwa Urip makmur ia.
(Rakyat hidup tenteram dan damai. Itulah kerajaan Selaparang. Adanya kemakmuran dan aturan. Itulah kerajaan Selaparang. Hidup selamat adat dan agama. Itulah kerajaan Selaparang. Kehidupan yang makmur sentosa).
Oleh karena buta huruf, syair lagu itu digubah oleh Bapa Rahil (almarhum), seniman tradisi terkemuka di Lombok Timur. Lagu ini sangat akrab di telinga masyarakat di Lombok, dan sering disenandungkan sambil menari oleh para penabuh Gamelan Beleq.
Namun, dalam Ensiklopedi Musik dan Tari Nusatenggara Barat, Pemban Selaparang tidak disebutkan penciptanya (NN). Toh Amaq Raya tidak mau pusing dengan hal ini, mungkin karena sikapnya yang lugu, nrimo dan ketidaktahuannya ke mana harus menggugatnya.
"Be alur bae uah, (Biarkan sajalah)."
Ia sudah sangat puas, bila karyanya disenandungkan orang lain.

SIKAPNYA yang total pada kesenian, membuat Amaq Raya hampir tidak pernah menolak tawaran pentas di berbagai desa maupun ke luar daerah. Instansi terkait juga memanfaatkannya selaku pemandu bagi pemula yang disiapkan mengikuti pentas berskala nasional.
Hanya saja dia acapkali kecewa, karena gerakan para penari-termasuk yang mengklaim diri koreografer-tidak pernah pas. Akibatnya tarian kehilangan wiraga dan wirasa. Terhadap hal ini, Amaq Raya cuma bisa bergumam, "Be gedek ite (kesal juga saya)." Dia lalu menirukan para penari yang asal menggerakkan tubuh. Misalnya, gerakan surut udang dalam tari gandrung, di mana kaki kiri-kanan bergerak ke belakang setengah melingkar, diperagakan seakan berjalan mundur biasa.
Menurut dia, gerak kaki dalam tari gandrung Lombok terangkat sekitar dua sentimeter-ciri khas gerak tari Sasak. Beda dengan tari Gandrung Bali yang penarinya mengangkat kaki ke depan, maupun Gandrung Banyuwangi yang kaki penarinya diangkat ke belakang.
Untuk meyakinkan cara menari yang benar, Amaq Raya pun bangkit dari duduknya, memperagakan tari Gagak Mandi. Lengan dan tangannya bergetar dan bergerak ke depan, badannya doyong dan meliuk-liuk ke belakang, semakin lama dia merunduk, lantas setengah berjingkrak dia pun duduk jongkok (nyengkeng).
Sekujur tubuhnya yang bergetar, menggambarkan gerak gagak terbang (ngindang) dan bekerap (membersihkan badan dari percikan air), yang diperagakannya dengan gerak yang nyaris sempurna.

***

KETERAMPILAN mencipta tari dan gending didapat dari ayahnya yang juga seniman kondang di desanya. Namun, guru yang sekaligus mengasah bakat alam Amaq Raya adalah Amaq Tahim. Lingkungan Desa Lenek yang dikenal gudang seniman tradisi, turut menempanya jadi seniman.
Melihat kemampuan para penari dewasa kini, Amaq Raya-ayah enam anak-memilih melatih anaknya, Yuliani (kelas III SD). Kepada anaknya ini ia berharap, bisa memiliki wiraga dan wirasa bila menari, bukan sekadar berlenggang-lenggok. Anaknya yang lain, Zaenal (16), lebih senang bermain gamelan.
Meski kegiatannya mencipta mulai surut, namun kepeduliannya terhadap seni terus membara. Hampir pasti Amaq Raya mendampingi seniman muda menghadiri undangan hajatan, entah sebagai pemandu rekan-rekannya, maupun selaku sekaha (penabuh) karena memang dia serba bisa memainkan beragam instrumen musik tradisi.
Bisa jadi, kegiatan itu memang diperlukannya untuk menambah penghasilan. Rumahnya masih berdinding gedek, berlantai tanah tanpa jendela, dan hanya ada satu pintu. Ruangan tamu rumahnya pengap dan gelap walau siang hari.
Menuju dusun berjarak sekitar 5 kilometer utara Desa Lenek itu, kemiskinan dan kekumuhan memang tampak setelah melewati jalan aspal. Pohon merangas dibakar terik kemarau, dan debu jalan tanah berhamburan. "Makanya tiang (saya) malu bila pelinggih (Anda) ke sini," ujarnya.
Istrinya lalu mengeluarkan tikar pandan dan menggelarnya di halaman rumahnya yang dipakai untuk bengkel kerjanya. Ia menyambung hidup dengan membuat batu bata.
Tiap 1.000 biji batu bata mentah, Amaq Raya mendapat upah
Rp 25.000. Sedang dari hasil berpentas ke berbagai pelosok desa ia dapat Rp 100.000-Rp 150.000 semalam. Hasil ini dibagi enam anggota kelompok kesenian gandrung.
Beragam sertifikat penghargaannya-yang katanya, "Entah di mana tempatnya, saya juga tidak bisa baca"-memang tidak banyak mengangkat kehidupannya. Walau begitu, ada saja yang tega mengobyekkan hidupnya yang jauh dari cukup.
Katanya, ada petugas mau mengusulkan agar dia mendapat sejumlah bantuan, asalkan menyediakan biaya administrasi Rp 10.000. "Saya tidak punya uang, bisa makan sehari saja sudah untung." (Khaerul Anwar)


diposting ulang dari labulia.blogsome.com
oleh  loq gayep warga lenek

lenek begibung